God bless this mess.



Senin, 09 April 2012

Seperti nyata dan seperti tidak nyata

 
(taken by @Kodeenjing)

Kosong. Mungkin beberapa dari kita sangat akrab dengan istilah ini. Istilah? Ya, mungkin lebih tepat dikatakan seperti itu. Karena kosong tidak pernah benar-benar ada. Bahkan di sela-sela setiap kata-kata yang tertulis. Di antara selamat datang dan selamat jalan. Tidakkah kamu memperhatikannya?

Tidak pernah ada kosong di sana.

“Jadi kapan kamu akan membawaku ke Surabaya?”

Aku terdiam. Aku memandangmu lekat-lekat dan berusaha menemukan sesuatu untuk menolongku menjawab pertanyaanmu. Memaknakan setiap garis kerut yang menjembatani rasa-rasamu untuk membentuk embrio di daratan ekspektasi-ekspektasiku, tepat di atas kedua alismu yang rapi itu. Membayangkan diriku masuk ke dalam servuction system kedua matamu, dan bertanya, apa yang sebenarnya operator mesin di sana maksudkan dengan tatapan-tatapan itu.  Tapi yang kutemukan hanya istilah dungu itu.

“Halo? Ada orang di sana?”

Aku kembali terkesiap. Seluruh logikaku mendadak hilang bersama segumpal ragu yang terus bergelinding bersama ragu-ragu lainnya yang entah dari mana datangnya. Sehingga kemudian membesar dan semakin besar tanpa kuketahui setinggi apa gunung yang kupijaki ini dan seberapa besar ragu itu ketika sampai di daratan.

Aku mungkin satu di antara sekian banyak orang-orang ragu. Yang memecah belah kesepian dan harapan akan bahagia, sibuk mengisinya dengan penunjuk arah. Dengan fanatiknya mengumpulkan berbagai alternatif dan model yang menjelaskan hubungan antarvariabel  dalam cerita-cerita yang pernah ada. Tidak henti-hentinya berkutat dengan frase bagaimana-jika untuk mencari apa yang berhak untuk duduk di mimbar ‘pilihan terbaik’.

Di titik itu, aku merasa lelah. Sekelompok masa lalu datang bersama laporan-laporan yang belum sempat dibaca. Laporan-laporan usang yang tidak memiliki jalur penelusuran. Laporan-laporan yang hanya meninggalkan sepetak dua petak kolom komentar.

Aku pernah merasa sangat bahagia. Hidup seperti orang-orang lainnya. Bangun dan terburu-buru ke kantor di pagi hari, dan pulang dengan segaris senyum yang dipaksakan di sore harinya karena telah melihatmu duduk di atas motor, menungguku sambil memainkan ponselmu untuk membunuh rasa bosan karena aku sering terlalu lama. Aku pernah merasa sangat bahagia. Menemukan seseorang yang membuat siang dan malam bukan sekedar pencacah waktu. Dan bukan menemukan seseorang yang membuatku berpura-pura agar dia datang kepadaku. Bukankah aku seharusnya bersyukur untuk semua ini?

Kenyataan kini berpendar menjadi lesatan-lesatan dokumen sumber yang acak, sehingga kini aku harus berlelah-lelah merangkaikannya kembali menjadi sebuah titik. Karena aku lupa sekarangku. Lupa dengan apa yang menyebabkan aku terkesiap seperti terbangun dari sebuah mimpi dan merasa asing dengan sekitar mataku. Aku rasa kalian juga pernah mengalaminya. Ditinggalkan diri sendiri dan dibawa-bawa keasingan. Klise. Tapi hidup memang terkadang penuh balada sehingga suatu saat yang perlu kita lakukan hanya menari. Menari atas semua nada sumbang yang berusaha mereka-reka hidupmu, menari atas kebisingan-kebisingan penuh caci yang menenggelamkan seluruh perasaan baikmu tentang masa depan.

Toh, pada akhirnya jembatan akan berakhir dan daratan akan segera terlihat. Lebih baik menyiapkan diri untuk itu.


Aku terkesiap. Mendadak aku berada di sebuah mobil dan memegang kendali penuh atasnya. Tangan kananku memegang stir, tangan kiriku memegang persneling, dan kaki-kakiku mengambil posisi masing-masing pada rem dan gas.

Sedikit terperangah, aku berusaha mengenali apa yang sedang terjadi. Dengan berkali-kali lipat rasa tidak percaya, aku melihat ke sekitar. Berusaha mengenali partikel demi partikel yang menyusun pemandangan liar di depan mataku.

Sebuah jalan tol. Lengkap dengan loket-loket elektroniknya. Dan plang-plang bertuliskan tujuan-tujuan yang belum terisi. Aku terduduk lengkap dengan semua hal yang kubutuhkan untuk melaju. Bensin yang berada dalam kondisi penuh, rem yang juga berfungsi penuh, serta mobil yang dilengkapi shock breaker yang handal untuk kondisi jalan serusak apapun, yang seolah-olah mengisyaratkan bahwa aku tidak akan memiliki alasan apapun untuk mundur. Selain alasan-alasan lain seperti jalan satu arah dan tidak ada jalur untuk putar balik, karena pintu keluar tol ini masih entah sejauh apa –setidaknya itu yang dikatakan plang-plang bisu ini–.
Aku melajukan mobilku dengan ragu-ragu. Tidak ada mobil lain yang melewati jalan panjang di depanku ini.

Iseng-iseng kunyalakan perangkat audio di mobil yang juga gagal kukenali ini. Bukankah ketika kita gagal memahami sesuatu, kita akan memilih untuk menikmatinya saja?

Mendadak aku dikejutkan dengan kehadiran sebuah kios kecil di tepi kiri jalan. Di sana tampak seorang pria setengah baya duduk meracik minuman untuk dirinya sendiri. Aku mengatakan begitu karena tidak ada seorang pun pembeli yang singgah di sana. Berpikir bahwa aku bisa bertanya apapun tentang situasi ini, aku menepikan mobilku dan turun dari dalamnya.

“Selamat siang mas.” Sapaku ragu.

“Iya. Selamat siang mbak. Mau pesan kopi?” Balas pria ini sambil tersenyum tipis.

Sedekat ini, aku bisa melihat kerut wajahnya di bagian dahi. Tapi tidak mengurangi khasiat senyumannya yang boleh dibilang menenangkan. Merasa kembali ke keadaan normal, aku lalu duduk di tempat yang sudah disediakan untuk pengunjung.

“Mas, sudah lama jualan kopi di sini?”

“Ya, kira-kira begitu mbak, saya sih sekedar mengisi waktu aja. Mbak sendiri dari mana? Jarang-jarang lho ada yang milih lewat sini. Makanya sepi.”

“Oh gitu ya? Saya juga bingung kenapa saya tiba-tiba di sini.”

“Kok bisa gitu mbak? Mbak bingung dengan pilihan mbak sendiri maksudnya?”

“Hahaha, ya nggak juga mas. Saya sekedar bingung aja kenapa saya ada di sini. Tapi ya sudahlah, nggak perlu dibahas.”

“Hehe, maaf lho mbak, saya juga bingung soalnya, berkali-kali juga saya menemui orang seperti mbak ini. Ngomong-ngomong setelah ini mbak mau ke arah mana?”

“Saya nggak tau mas, mas lihat sendiri kan, plang-plang jalannya nggak jelas. Jalan yang ini kemana, jalan yang itu kemana. Mungkin mas bisa kasih saya pencerahan?”

“Wah, kalau saya kasih tau kan jadi nggak seru mbak. Hehehe.”

“Kok gitu mas?”

“Hanya bercanda lho mbak. Bukan maksud saya sok misterius, tapi jujur saya juga nggak tahu apa-apa. Saya juga sering ditanya begitu oleh pengunjung, yang saya bisa jawab hanya itu, nggak tahu.” Katanya sambil menyodorkan segelas kopi hangat ke depanku. “Selain menjawab itu, saya juga bilang, pilih saja sesuai apa yang hati mbak bilang. Toh nggak ada jalan mundur.”

“Oh gitu.”

“Lha mbak sendiri mau kemana sebenarnya?”

“Andai saya tahu saya mau kemana mas.”

“Nah itu, mbaknya aja nggak tahu, apalagi saya. Yang tahu tujuan mbak kan mbak sendiri.”


Kopi ini terasa begitu pahit sekaligus begitu melegakan. Plang-plang itu masih bisu dan aku masih sendiri.


Mungkin jalan tol, keterkesiapan di tengah jalan, dan perumpamaan-perumpamaan itu tidak pernah benar-benar ada di kehidupan nyata. Hanya sekelebat pikir yang mengisi istilah dungu bermakna hampir sejenis ‘kosong’ itu. Dan kembali ke pemahamanku di awal, bahwa keburukan tidak lebih dari kebaikan yang belum diketahui alasannya. Baik karena apa.

Dan manusia, manusia ada di tahap yang berbeda di dunia yang juga berbeda. Tidak ada satu hal pun yang layak dibandingkan bahkan disetarakan untuk dilihat mana yang lebih baik. Karena peraturan di setiap negeri dongeng tidak pernah sama. Kita tidak bisa bertanya kepada orang lain, kemana kita akan pergi, apa yang kita tuju, dan bagaimana kita kesana. Karena setiap jalan akan berarti berbeda.

Kamu juga. Kamu mungkin representasi pria yang berjualan kopi di rest area itu, yang hanya menjadi sumber-sumber keteduhan yang hanya bertahan dalam hitungan waktu, yang hanya memberiku tawa di kuadran dimensi yang kebetulan sama, atau bahkan bensin yang kugunakan untuk menempuh perjalanan yang belum aku tahu itu. Entahlah, bahkan mungkin kamu hanyalah radio yang menemaniku dalam perjalananku nanti. Aku tidak pernah tahu, yang aku tahu hanya…kamu ada. Dan masa lalu itu hanya pusaran omong kosong yang berada jauh di pedalaman kota kecil di seberang pemikiran-pemikiran logis.

Dan kamu senyata bagian dari silogisme yang kusampaikan bersama lembar-lembar kesimpulanku nanti.

Untuk saat ini, biarkan seperti itu. Seperti nyata dan seperti tidak nyata.

Dan ngomong-ngomong… Bukankah semuanya sudah tertulis?

8 April 2012