God bless this mess.



Kamis, 23 Juni 2016

Where is my glasses?

The problem is I cannot see clearly.
So however beautiful the object is, I would never ever be able to enjoy it.
And I cannot find my glasses.

Kamu berada di depanku persis saat ini. Dengan posisi favoritmu, terlentang dan memainkan ponsel dengan jari-jarimu. Menunggu kantuk menyergapmu dan mengembalikanmu pada pagi. Pagi yang menandai satu malam perjuangan telah usai.

Kamu pria yang sangat gigih. Namun juga penuh dengan cinta kasih. Terkadang aku bahkan tidak mengerti apa yang sedang kamu lakukan. Kamu bicara  proyek powerplant nasional. Potensi kenaikan harga tanah di tanah perawan Bali. Aplikasi dating professional. Di tengah-tengahnya, kamu juga bercerita tentang kaus gereja yang kamu punya dilemari dari sebuah kegiatan sosial. Kamu juga pencerita yang baik. Atau lebih tepatnya, kamu punya mata yang unik. Yang selalu bisa melihat countermeaning dari hal-hal dihadapanmu. Kamu ceritakan harimu seolah itulah hari paling produktif di hidupmu. 

Sekarang kamu sedang bingung melihatku menulis. Mungkin pikirmu, hanya wanita gila yang menulis malam-malam begini. Di tengah waktu yang seharusnya kita gunakan untuk bercerita tentang semua hal yang kita nikmati secara eksklusif dari satu sama lain. Kamu seperti tidak ingin aku melewatkan satu kisahpun.

Di mobil ketika perjalanan pulang tadi, kamu tidak berhenti bercerita. Mulai dari buka puasa yang berisi diskusi-diskusi serius, hingga korespondensi surel kamu dengan seorang partner di belahan asia tenggara lainnya. Kini aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa cerita-ceritamu. Tidak ada kamu dan logatmu yang sangat kamu. Tidak ada kamu. Betapa buruknya.

Kamu tadi bertanya. Kamu kenapa?. Aku menggeleng seperti biasanya. Layaknya politikus yang lebih memilih menyampaikan makna secara bersayap ketimbang terang-terangan meminta hujan pelukan darimu. Disertai ciuman bertubi dan perasaan hangat yang melingkupi. Aku memilih diam dan memperhatikanmu saja. Sambil berusaha memahami bahwa aku sedang buta. Sedang tidak bisa melihat apapun yang sedang kamu lakukan untukku.

Mungkin ini kutukan. Kutukan kepadaku untuk selalu kehilangan kacamata di saat-saat dimana aku sangat membutuhkannya. I mean, ini bukan seperti kehilangan payung saat hujan turun. Kehilangan kacamata itu benar-benar menyebalkan, Dan celakanya orang normal tidak akan pernah memahaminya. Seberapa jauh deviasi objek nyata dan tangkapan mata kita. Dan untuk aku, itu sudah berada di luar toleransi.

Kemarin aku bertanya pada salah seorang sahabatku. Mereka bilang ‘he is head over heels with you’, Lalu aku bingung. Kenapa kesimpulan itu tidak pernah datang dari analisisku sendiri? Kesimpulanku tentang kita selalu tidak memuaskan. Selalu berlebihan. Selalu kekurangan. Selalu ekstrim. Selalu menyimpang dalam tingkat confidence yang tidak wajar.

Mungkin buatku, mempercayai bahwa kamu menyayangiku seperti itu sesulit percaya pada superstition. Sulit memahami dan menjustifikasi ada orang yang mau menerima kekuranganku. Mencintaiku dengan seburuk-buruk versiku. I mean, aku sangat buruk. Sangat sulit untuk dicintai. Sangat sulit untuk dimaknai. Terlalu countercyclical.

Kamu harus tahu seberapa besar keinginanku untuk berubah. Kalau ada kursus bagaimana agar kita merasa dicintai, aku pasti ambil kursus itu berapapun biayanya. Karena rasa-rasanya itu investasi dengan return yang jauh lebih besar prosentasenya dari investasi di sleeping beauty bonds-nya Disney sekalipun. Kursus itu akan membuatku mengerti perasaan yang mewah itu. Perasaan yang butuh lebih dari 28 tahun and still counting itu.

Sekarang kamu sudah tidur. Salahku. Seharusnya kita sedang bercinta sekarang. Seharusnya kita sedang malas-malasnya mengakhiri hari ini. Tapi lagi-lagi aku lalai. Aku memilih diam dan membiarkan tubuhmu berbaring sendiri di depanku. Memilih mendengar dengkuranmu dibanding membuat harmoni dengannya.  

Please tell me where my glasses is.
I desperately need to witness the great thing present before me.

Rabu, 08 Oktober 2014

There is no such thing like key to the future



Orang bilang kisah hidup kita sudah ditulis. Apa benar? Saya rasa benar. Oleh karena itu kalimat ini dipercaya oleh sebagian besar orang sebagai semacam obat anti depresan (pengganti pil-pil tolol yang tidak natural itu!) yang selalu saya ngiang-ngiangkan ketika saya sedang terlalu asyik dengan kontemplasi yang berujung pada kegelisahan. Tapi saya sebenarnya lebih tertarik untuk mengetahui detil berikutnya dari fakta umum ini: ditulisnya seketika (real-time) atau ditulis dulu baru kita peragakan?
Mungkin di tengah dunia yang sudah sangat jauh dari primitivisme, pertanyaan ini kedengaran tolol luar biasa dan terlalu berbau kesakitan psikis yang jarang orang mau tertarik membahasnya. Orang sudah punya agama. Orang sudah punya realita. Orang sudah punya orang-orang yang seagama dan melihat realita yang sama. Rasanya kita tidak bisa lebih benar dari ini. Ya kan? Ayo jangan malu-malu, iyakan saja. Dengan mengiyakan kalian hanya berpotensi kedengaran tolol luar biasa dan berbau kesakitan psikis saja kok. Big deal.
Dan kembali ke pembahasan mengenai pertanyaan tadi. Terlepas dari keprimitifan pertanyaan itu, saya ingin menyampaikan bahwa kali ini, jawaban dari pertanyaan itu  akan sangat menentukan hidup seseorang, yaitu saya sendiri. Ah, kenapa harus mengaku? Begini ya. Di setiap tulisan, saya jarang mewakilkan suatu peraga fantasi saya dalam wujud manusia, apalagi manusia yang bernama dan berkarakter. Sebab hal itu rasanya terlalu bergaya kepencipta-penciptaan. Bagimana kalau tokoh itu benar-benar ada dan takdirnya ada di tangah huruf-huruf yang saya ketik? Ah, tidak heran saya sangat tidak bisa dan benar-benar secara fundamental tidak eligible untuk membayangkan memiliki seorang anak yang keluar dari rahim saya sendiri dan bernyawa. Pakai menamai anak itu segala lagi.
Stop acting cool about playing God, people! It IS scary!

Jadi kembali lagi ke pertanyaan tadi. Real time or pre-written?
Kalau menurut saya, pre-written. Dan yang ditulisNya hanya satu kalimat. Atau dua. Atau tiga. Entahlah, yang jelas panjangnya cukup untuk menjadi background dari cerita hidup si manusia. Dan ini yang dinamakan takdir. Sesuatu yang sama sekali tidak bisa kita ubah, seperti warna kulit kita, warna rambut, negara asal, dan dari vagina siapa kita dimuntahkan. Sebagaimanapun kita berusaha men-deny, menolak takdir kita, dengan suntik putih, cat rambut, berdagang kebangsaan,  sampai mengarang cerita berasal dari keluarga blaaablaablaaa. Semuanya bisa dilakukan, namun sampai kapanpun hal-hal ketakdiran ini akan melekat dalam diri kita dalam selembar naskah yang tertulis dalam bahasa yang tidak kita ketahui dan tidak akan pernah kita ketahui dan yang kuncinya tidak ada (mengatakan bahwa itu ‘terkunci’ pun sebenarnya terdengar menggelikan). Buktinya? wanita-wanita di Afrika yang bahkan tidak tahu ada hal semacam buku, atau wacana semacam kesetaraan kesempatan bagi wanita. Novel kehidupan Anda sudah dicetak bung!
Lalu apa ada kalimat lainnya selain latar takdir tadi? Saya pikir iya. Dan saya yakin ini di-copy dan di-paste ke seluruh novel hidup para manusia. A.k.a, sama untuk semua manusia. Kalimat itu akan berbunyi seperti:
I set him/her free to choose how his/her life will be and he/she will always have my bless as long as he/she keeps his/her feet to the ground and always spread love in life.

Saya jadi menangis lagi.

Pencipta, kok kayaknya tidak sesimpel itu ya?

Apa tidak ada opsi untuk Engkau menuliskan hal-hal seperti ‘I will help him/her from time to time if he/she feels lost’.


I mean, did I even choose to live?


Daripada makin buyar dan tersorot sebagai pemilik kesakitan psikis level 2, kita kembali ke pertanyaan tadi. Saya ingin sekali percaya bahwa Pencipta hanya menuliskan kalimat-kalimat tadi dan selebihnya, kita lah yang diminta untuk bertualang dan berimprovisasi. Kalau tidak, rasanya apa yang saya pelajari seumur hidup jadi salah semua, dan ini sudah terlalu terlambat untuk sebuah kesalahan yang sedemikian besar. Seperti melamar program magang bersama anak-anak di pre-penultimate year of study padahal kita sudah punya gelar master dan pengalaman kerja. *lah, curhat

Jadi seperti ini. Manusia lahir ke dunia dari sebuah ide. Ide bahwa Pencipta kita kurang puas dengan keindahan bumi dan segenap tata surya. Pertama, Dia tidak puas dengan kegelapan. Maka Dia ciptakan cahaya. Selanjutnya, Dia tidak lagi puas dengan cahaya itu, maka diciptakanNya konsep scratch yang kita kenal dengan Big Bang theory. Setelah muncul tata surya, Dia mulai mengalirkan air dan menghendaki kehidupan di atas Bumi. Tumbuhan, hewan, semuanya membuat bumi dan kehidupan yang baru diciptakan ini begitu indah. Indah sekali. Tapi, Dia tidak berhenti di situ saja. Dia beranggapan bahwa masih ada yang kurang, lalu diciptakanlah kita. Manusia. Dengan predikat makhluk hidup paling sempurna. Jelas bahwa apabila apa yang saya ketahui ini benar adanya (i cant say this things without being harsh people, sorry!), Pencipta kita berjiwa petualang. Dia merisikokan bumi dan kehidupannya untuk ditinggali kita-kita ini yang nyata-nyata mulai merusak bumi dan membunuhi hewan-hewan inosen dengan metode yang cukup jahat. Padahal Dia punya pilihan untuk tidak.

Kalau memang saya tidak terlalu salah memahami ini, mungkin saya bisa lega. Karena selama sesuatu itu mungkin dilakukan, dan saya melakukannya dengan niat baik untuk kehidupan saya yang Cuma dikasih satu kali ini, saya bisa puas. Saya bisa benar di jalan saya sendiri. Mungkin saya akan menjadi jahat di tempat lain, tapi sebagaimana yang ditulis tadi, saya bertugas untuk memaksimalkan pencapaian saya di hidup saya sendiri. Dan selama saya tidak memelihara hal-hal yang merusak bumi, seperti menebarkan kebencian dan mengurung serta membunuhi hewan-hewan secara kejam, saya bisa bilang saya masih dalam jalur itu. Ah, saya terdengar sedang mencari pembenaran ya? Wajar sih, lagipula untuk apa ada penyalahan.

Sebagai pembanding, ada juga orang yang percaya jawaban alternatif dari jawaban pertama ini, yaitu semuanya sudah tertulis, sampai ke detil-detilnya. Ini yang membuat mereka tenang. Dan ini juga yang membuat saya tidak tenang. Meskipun lebih masuk akal karena semakin mengentalkan karakter Maha dari Pencipta. Bagi saya, ah sudahlah...pasti saya akan menyalah-nyalahkan jawaban ini. Demikian juga untuk jawaban bahwa semuanya ditulis secara real-time. Pernah nonton Ruby Sparks? Film itu memberi saya wawasan penciptaan secara lebih dahsyat daripada yang labelnya saja sudah label penciptaan seperti Noah. Kalau ditulis di mesin ketik dan real time, kenapa tidak ada masa-masa dimana saya tiba-tiba bisa ngomong bahasa Jerman atau sejenisnya? Ah, lagi-lagi. Sudahlah. Menciptakan itu memang aktivitas yang susah dimengerti.


***
Saya berharap menemukan sesuatu setelah menuliskan sehuruf demi sehuruf di sini. Karena saya biasanya datang ke depan komputer tanpa membuat lelah otak dan hati saya dengan memikirkan terlebih dahulu kerangka penulisan, ide, dan sebagainya. Saya juga niru-niru Pencipta, suka bertualang. Dan tentang keputusan-keputusan hidup yang seringkali dilematis: kita sering salah mengira realita adalah dasar dari pembuatan keputusan. Bagaimana kalau yang kita tahu itu salah?
What if we are meant to see behind walls???

For now, I am not going to cry and be whiny about my future anymore. Seperti yang dibilang aktor utama di Boyhood: there is no such thing as key to the future. Ada sesuatu yang harus terjadi seperti keluar dari pekerjaan bergengsi, putus dari pacar, bercerai, pindah jurusan di tahun ketiga, atau kabur dari rumah. Sama seperti masuk SMA favorit, menikahi PNS, kerja di negara yang lebih maju pendidikannya, mengambil penawaran promosi dari bos, menyetujui mutasi. They are equally good, as long as kita melakukannya untuk hidup yang lebih memuaskan, yang lebih orgasmik dari sebelumnya. Yang membawa kita kepada keindahan yang semakin mendekatkan diri padaNya. Bukan untuk mengerucutkan hidup kita kepada aturan-aturan atau stigma-stigma yang membawa kita semakin mundur dari kehidupan yang penuh keindahan seperti yang diinginkanNya. Membawa kita sedih. Jauh ke dalam sana. Ke dalam ketiadaan yang hanya berteman kegelapan. Can it be any emptier?

Jumat, 18 Juli 2014

rambut gondrong dan satu dua biji cerpen

Saya adalah saya yang saya pikir adalah saya. sedangkan saya selalu bingung, kenapa saya hanya bisa tahu saya yang saya pikir adalah saya. Padahal saya juga ingin tahu, siapa seharusnya saya, atau siapa sebenarnya saya.

Saya wanita, usia saya *beep* tahun, dan sekarang sudah menjelang *beep* tahun. Di Inggris, menginjak usia di atas *beep* tahun seperti ini semuanya tampak serba berbeda, yah, setidaknya berbeda di mata penyedia jasa transportasi kereta api ketika saya melewati spot-spot inspeksi dan juga di mata ibu atau bapak penjaga mesin kas di beberapa department store ketika saya menyodorkan sebotol Vodka, Baccardi atau teman-teman seper-containing alcohol-annya, selebihnya mungkin sama saja karena tidak ada perubahan fisik yang signifikan. Saya sendiri, terlepas dari keberadaan saya, asal saya, atau hal-hal lainnya yang bisa dipastikan tidak dapat saya ubah, menganggap fenomena perubahan umur yang tidak bisa dianulir kehadirannya ini adalah sesuatu yang sangat besar. Well, ini juga terlepas dari kebiasaan saya menghubung-hubungkan cara orang memulai percakapan ketika dia sedang membutuhkan bantuan saya dan kepribadiannya, juga terlepas dari bertahannya urgensi di kepala saya untuk cermat memilih segala sesuatu yang mampu memberikan keuntungan saya secara estetis, perseptif, dan ekonomis. Untuk yang tidak paham, saya ini overthinking, mbak, mas.

Awalnya, saya pikir saya hanya mengada-adakan topik ini, layaknya orang-orang yang juga sama overthinking-nya seperti saya. Karena sudah lama otak saya tidak berkolaborasi dengan hati saya dan jari-jari tangan saya dalam waktu bersamaan seperti sekarang. Well, saya anggap, 200 lebih kata yang sudah tertulis hingga saat ini bukan sesuatu yang bisa diada-adakan. Saya simpulkan demikian karena selama berbulan-bulan ini, saya sudah mencobanya, mencoba untuk mengada-adakan topik, dengan landasan pemikiran “masa sih, dari sekian banyak momentum yang bersilangan, berbentur dan berhancuran, bersatu dan bersenggamakan, tidak ada yang mampu membuat jari-jari saya luluh untuk membuka kembali saluran ‘eustachius’nya mental saya?”, dan hasilnya? Nil. Tidak satupun tulisan non-akademis bisa saya hasilkan. Padahal, sebelumnya, saya adalah salah satu penggemar suatu penerimaan pikiran dimana kita akan lebih mampu bekerja sama dengan jari-jari tangan kita ketika kita sedang muram, terasing, tidak dalam putaran utama, atau apapun istilahnya, yang mana saya sering mengalaminya. Bagi kalian yang tersesat membaca ini, saya sedang menjelaskan bahwa tulisan kali ini dipantik dari kegelisahan yang saya anggap lebih dalam dibandingkan kegelisahan lainnya yang tidak juga dapat dikatakan kegelisahan minor. Lagi pula dimana ada kegelisahan minor?

Saya ingat, pernah membaca di buku puisi, milik bapak GM kalau tidak salah. Dalam buku itu, di bagian pembukanya, dikatakan di salah satu baitnya bahwa ‘kita dapat dikalahkan oleh rambut gondrong dan satu dua biji cerpen’. Seperseribu detik tidak sampai, saya mencerna kalimat itu, dan saya langsung tersenyum bahagia, seperti sedang ditunjukkan sesuatu, diarahkan ke sesuatu pemahaman kecil yang agaknya dampaknya dapat saja besar untuk saya menuju pemahaman-pemahaman lainnya. Jadi apa? Kalian pun bisa memiliki serapan yang berbeda terhadap penggalan kalimat itu, yang juga saya pisahkan dari kalimat-kalimat lainnya, yah ibarat orang yang sedang mencari kesalahan, dan pembenaran, instead of kebenaran. Tapi apa boleh buat, toh kita berdiri di atas kaki kita sekarang juga karena pembenaran-pembenaran kecil  yang sistematis sehingga kita dapat bermetamorfosis menjadi suatu karakter yang nyaman kita tinggali hingga saat ini. Tentunya dengan tidak menggarisbawahi penggunaan kata nyaman itu sendiri. Jadi kembali lagi, menurut saya, penggalan kalimat itu berelaborasi dengan berhektar-hektar aspek kehidupan, yang tentunya diproses secara personal sebagai manusia yang penuh justifikasi, penilaian, dan penafsiran-penafsiran bias seperti dalam pelajaran behavioural finance –maaf untuk analogi cepat dan tidak universal ini, dan menghasilkan arti sebagai sebuah rasa iri yang tidak terduga besarnya. Iri? Ya, iri, bukan iri seperti ketika iri dengan tetangga sebelah yang membeli kulkas baru yang nyata-nyata merupakan hasil dari korupsi dana perjalanan dinas, tapi iri yang sungguhan. Yang dimiliki orang-orang yang aliran perkembangan psikisnya tidak bisa dibendung, yang dalam satu titik bisa bersikap agreeable terhadap artikel Guardian dan sejenisnya tentang “10 kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang sukses di pagi hari”, memborong busana dengan berbagai potongan di musim panas, mengadu argumen tentang paham Agnostik yang kontras dengan agama pada misionaris di jalan-jalan umum, dan di sisi lain bisa menerjemahkan siratan luka sejarah yang amat dalam di sebuah lukisan amatir karya seniman ‘rendahan’ yang belum populer dan ‘reviewnya masih sedikit’. Iri yang saya artikan sebagai, ‘luar biasa megahnya karya ini, saya kalah, saya iri terhadap hubungan karya ini dengan penciptanya’. Seperti itu.

Jadi, kembali dengan paragraf awal. Apa yang sebenarnya saya pikirkan tentang diri saya? Saya rasa, semua orang pernah minimal sekali, menanyakan kepada dirinya, apakah saya benar-benar saya yang saya pikir adalah saya? Saya, lahir dari keluarga baik-baik, melaksanakan wajib belajar dua belas tahun (versi setelah bapak Joko Widodo menjadi Presiden Republik Indonesia), melanjutkan pendidikan tinggi di perguruan tinggi negeri untuk memperoleh ijazah strata satu sebagaimana orang-orang normal lainnya, masuk kerja dan memperoleh penghasilan tetap per bulan, dan sekarang merebut kesempatan untuk meraih ijazah strata dua di negeri yang lebih jauh dari China sebagaimana orang-orang ambisius lainnya. Sudah, tidak perlu ada yang dibahas kan dengan cerita hidup lurus-lurus saja begini?

Lantas, sudut pandang mana yang membuat saya ngotot ingin membahas diri saya? Sebentar, hati-hati konten bragging yang tinggi setelah ini. Saya masih muda (ck!ck!ck!), seumur hidup saya, saya selalu sekolah di sekolah-sekolah favorit (yang terdekat dengan rumah tentunya, karena zaman saya dahulu belum ada internet dan pengetahuan saya sedikit tentang skema-skema pembiayaan dan saya sendiri tidak berada dalam keluarga kaya raya), meraih prestasi akademis yang selalu berada dalam level pengecualian dari rata-rata sehingga di akhir berhasil bekerja di tempat yang sangat menempa dan prestijius di antara jenisnya, sanggup memperoleh apresiasi tinggi dari berbagai kolega yang bekerja dengan saya dalam seluruh tiga ratus enam puluh derajat penilaian, dan sekarang, menikmati udara segar dan waktu-waktu yang mampu diluangkan untuk hal lain selain mencaci fasilitas dan pelayanan pemerintah yaitu kuliah di Inggris raya dengan kantong kas penuh hasil dukungan dari pemerintah Inggris bersama 500-ish orang luar biasa lainnya, yang bisa jadi benar-benar luar biasa.

Tapi, harus saya akui, selain ’10-minute meeting’, ‘kesuksesan itu dilihat dari bagaimana kita memandangnya’ juga ada dalam daftar hal-hal yang saya anggap awalnya adalah sampah namun sekarang saya yakini sepenuh hati kebenarannya. Saya lalu menemukan borok-borok mental yang selama ini saya anulir karena saya bahagia –yah, meskipun dalam daftar saya ‘happiness is only a state of mind’ juga masuk. Borok-borok itu saya identifikasi dan saya kupas menjadi beberapa bagian, ada yang borok yang mengarah kepada ‘sebenarnya ini bukan borok, tapi tanda lahir’, atau borok yang kalau dirawat akan benar-benar membawa perbaikan untuk kulit mental kita. Pardon my analogy, but thats the way i see it. Borok ini punya wujud-wujud kasat mata, seperti pertanyaan kenapa saya harus memilih masuk ke sekolah-sekolah pilihan orang tua saya (walaupun saya punya jawabannya: karena saya lahir di Asia dimana orang tua menanamkan pada anak-anaknya konsep yang semacam bertolak belakang dengan orang tua-orang tua di Eropa yang menanamkan pada anak-anaknya bahwa mereka adalah manusia biasa yang harus berjuang sendiri untuk meniti apa yang mereka inginkan dan bagaimana mereka berjalan ke arahnya -yang bermuara ke hal-hal semacam cari uang sendiri di usia belia-, sehingga keputusan saya adalah sebagian besar merupakan keputusan orang tua saya, serta karena orang tua saya lahir duluan sehingga pikiran logis saya menuntun saya untuk percaya bahwa mereka tahu hal-hal yang belum saya ketahui, terlebih di tengah era globalisasi masih bayi dimana internet belum benar-benar beresensi 'membuka'). Kedua, pertanyaan kenapa sampai ketika internet mulai ada dan saya mengenal ekstrakurikuler seperti film, jurnalistik, basket, tari kontemporer, cheerleading, drum, piano, yang semuanya saya cintai dan saya bisa dibilang baik di dalamnya, saya masih menganggap bahwa ‘saya harus masuk yang paling favorit dan yang paling menantang’ juga? Dan lalu, setelah saya ditempatkan bekerja, dimana saya punya akses luar biasa dengan dunia luar, mengenal bermacam-macam orang dengan kisahnya dan membaca banyak buku saya nyaman dengan paham tradisional (ya, karena papa saya pun menganutnya, ini hanya bentuk fisik sang umur paham saja) ‘mencintai apa yang saya kerjakan’ dan ‘ah, rumput tetangga selalu lebih hijau’, dan kenapa sampai saya tiba di 3 tahun lebih karir saya, saya malah menganggap, ‘saya sudah jauh sekali belajar tentang hal ini, bahkan saya sudah punya karir, jadi sebaiknya saya tetap maju dan memantapkan bidang karir saya di sini, dan menekuninya’?

In the other hand, tidak saya pungkiri, fakta bahwa saya selalu berjodoh dengan kesempatan adalah sesuatu yang patut saya syukuri hingga tiada tara, karena saya sampai di sini dan bisa menulis ini semua. Semua yang saya jalani berkontribusi, baik yang baik maupun yang tidak, untuk jalan hidup saya. And this is no "how would it be if i become...” kind of article. Disini, saya hanya mengajak kalian untuk dibawa ke drama wanita bermental ambisius ketika memasuki usia *beep*, dan merasakan kegelisahan yang luas sehingga dirinya bahkan tidak kuat lagi menghadapi si rambut gondrong dan satu dua biji cerpen. Siapa tahu, kalian sampai pada satu titik mental seperti saya sekarang dimana kalian merasa: bukan saya tidak puas dengan apa yang saya kerjakan, bukan saya mengutuki kurangnya nikmat atau apapun yang disebut orang-orang yang sederhana yang berpegang pada satu hal yang mereka yakini dari awal hingga akhir dan isi kepalanya tidak serumit para penganut paham Agnostik, namun saya benar-benar tidak suka konsep membuang-buang waktu, dan saya tidak bisa meramu pikiran yang sederhana (kalau hidup sederhana, bisa!) untuk membuat semuanya, mungkin, akan lebih mudah untuk mengerucut seperti mengerucut kepada melakukan hal yang baik dan bertujuan untuk investasi kehidupan setelah mati, serta bermanfaat untuk orang lain. Dengan demikian semua hal akan tampak seperti hal yang orang bilang mulia, sebagaimana kita menjalaninya, dengan ikhlas (?), dan tanpa ambisi bertutup konsiderasi terhadap ketidakpuasan hati yang terlalu berbelit. Saya, sebagai kontrasnya, adalah seorang yang sangat individualis (alias orang yang sulit sekali berpikir bahwa dirinya hanya bagian dari suatu kelompok, kawanan, atau kerumunan, dan selamanya akan menjadi bagian yang mengutuhkan sesuatu yang lain, dan instead, berpikir bahwa bermain dengan kemungkinan-kemungkinan untuk mencapai level maksimal kemerdekaan pribadi, ketenangan batin, dan hal-hal manusiawi lainnya adalah lebih utama) selalu menebak-nebak, mengira-ngira (tanpa memedulikan peyorasi kata menebak dan mengira itu sendiri), apa seharusnya saya, apakah ini gundah malam yang sama dengan yang lainnya, atau sebuah sinyal yang dikirim oleh sebuah peran yang sudah lama menunggu karena kita sibuk menghabiskan waktu dengan peran lainnya. Apakah kejanggalan yang saya rasakan dalam menghadapi teman-teman yang menerbitkan buku, menjadi desainer perintis yang mengikuti berbagai fashion show -yang belum seakbar yang kita anggap akbar secara umum tetapi bisa ditebak betapa mengharukannya berada di sana- meskipun belum mendapat gelar desainer dari universitas manapun, memenangkan kompetisi bisnis dan siap ekspansi ke Negara-negara lain untuk bisnisnya, menyumbang peran profesional dalam sebuah film independen, memotret untuk majalah Vogue, memilih melanjutkan S3 bukan karena pintar tetapi mereka memiliki misi strategis seperti mereplika embrio manusia untuk bahan pembuat obat segala penyakit yang berfungsi sebagai regenerator tubuh manusia, bahkan kepada mereka yang memilih meninggalkan pekerjaannya demi hidup dengan irama yang lebih teratur dengan fokus pada suami dan anak-anaknya, atau bahkan yang lebih ‘bahkan’ lagi, saya insecure melihat Bapak Joko Widodo berpidato dalam debat capres. Rasa iri dan terusik itu mahal, dan jarang terjadi. Saya ingat, papa saya pernah bilang bahwa dokter, irinya dengan dokter, dan tukang becak irinya dengan tukang becak, yang saya lalu artikan juga sebagai ‘how you see something is a true reflection of how you see yourself, it can never be something else’.  

Saya merinding dan tidak berhenti dalam menulis artikel ini, karena energi iri itu begitu kuat, begitu tidak mungkin salah sasaran, dan saya sudah mulai tidak sabar untuk mulai mendokumentasikan pertarungan antara semua aspek –perasaan, pengalaman, yang telah dialami si gadis yang menua seperti manusia lainnya ini dengan studi empiris yang dilakukan oleh hatinya sebagai akibat dari penggunaan metode sampling POV yang berbeda.

Saya suka quote dan saya tiba-tiba ingat sebuah quote dari teman saya. “I am always happy for people, not for what they do, neither for how important we think things that they do, but for they are happy in doing it, and for all her/his life converges to this one happy curve.” I guess that is so true, my dear.

Saya bukan Alan Greenspan, tetapi saya selalu lebih senang mengajukan pertanyaan ketimbang pernyataan dalam konteks bicara kepada publik, dan pertanyaan itu biasanya saya juga tidak bisa menjawabnya. Dan tugas kalian untuk mengolah ini untuk kebutuhan kalian sendiri, sebab kita selalu bertanggung jawab akan apa yang kita ketahui.


That’s why people write things.

Rabu, 07 November 2012

Entahlah, tapi setidaknya

"Kamu siapa?"
Pertanyaan bodoh inilah yang mengawali segalanya. Maksud dari segalanya adalah segala yang berkaitan dengan pertanyaan bodoh itu.

Butuh beberapa hari, beberapa minggu, bahkan beberapa bulan untuk aku mengenali suhu yang memutuskan menetap di tubuhku. Sesuatu yang tampaknya hangat tapi tidak benar-benar melegakan, seperti menanti akan apa yang terjadi setelahnya, apakah panas, ataukah dingin. Beberapa upaya penentuan akan kemana nasib hangat ini menjadi satu-satunya upaya yang dapat kulakukan selain hanya melihat tanpa mencari-cari bahan pertanyaan, menonton tanpa harus berpikir kapan saatnya bertepuk tangan atau berjalan meninggalkan ruangan.

***

"Kamu serius nggak sih sama aku?"
Malam yang sempurna itu mendadak lantak karena sederet kalimat tidak tahu diri yang datang terlambat dan tidak mengetuk pintu ini. Menyadari kelantakan yang ditimbulkannya, aku hanya bisa diam, berharap seseorang melalui kamar ini, mengambil sebaris kalimat ini dari ingatan kami lantas pergi tanpa apapun lagi untuk dikatakan.

Tapi nyatanya kalimat ini muncul dengan tujuan.

"Harus ya, segalanya dikemas rapih dalam deretan kata?"
Kamu dengan sederet kalimat antimelodrama itu seperti manisan oleh-oleh dari Tunisia yang terpaksa aku telan pagi ini meskipun rasanya menjengkelkan luar biasa, bukan karena tidak enak, tapi karena lidahku sudah pekat dengan standar makanan-makanan Indonesia. Atau aku satu-satunya ratu drama yang tidak menerima penawaran akulturasi budaya?

Mungkin kamu adalah satu dari sebaris rerumputan palsu yang kini berusaha mendeklarasikan orisinalitasmu. Akan sulit untukku bahkan untuk memahami ini semua.

"Intinya bukan kata-kata. Tapi kemampuan kamu untuk menjelaskan apa maksud kamu. Kalau bukan pakai kata, pakai apa lagi?"
Biarlah dua monster bervirus ini dihadapkan langsung, barangkali akan saling menginfeksi satu dengan lainnya. Dan mutan-mutan yang lebih baik akan lahir.

Kamu tampak kesal dengan keberlebihan kata-kata ku yang mendekati konstan. Aku pun tidak bangga dengan apa yang kuteriak-teriakkan barusan. Kita seperti sutradara dan produser yang sama-sama tahu apa ujung dari cerita ini, tetapi masih saja berjibaku hanya karena perkara lighting.

"Aku sayang sama kamu. Kamu bodoh kalau nanyain itu. Kalau keseriusan, kamu bisa lihat sendiri."
Kamu dan orisinalitasmu, aku lupa. Kamu tidak pernah menyukai sesuatu yang dilumuri banyak kata, utamanya kata-kata yang tidak masuk dalam garis bawah inti kalimat. Kamu juga orang yang benci dengan janji, katamu lebih baik menjadi manusia paling dingin di dunia daripada harus membual dengan kata-kata yang belum tentu dilakukan. Sebab aksi seharusnya berbicara lebih lantang daripada kata-kata aksi itu sendiri.

Kali ini, aku diresapi setitik rasa bangga yang enggan kutunjukkan, sebab sejujurnya, aku tidak membutuhkan rasa bangga itu.

...

"Feeling loved is very important, but loving, my precious girl, that's the necessity."
Sebuah dialog dari Rebecca Buchwald kepada Beth Buchwald dalam film Adam yang diproduksi tahun 2009.

Di penghujung film, Beth menemukan sendiri bagaimana menyiasati hatinya agar perasaan itu ada dan dia tetap mampu menjalani hidupnya sehari-hari, sebab Adam, yang merupakan kekasihnya di film itu, adalah penderita Asperger's Syndromme (ASD), dimana dia tidak mampu menunjukkan perasaannya kepada orang lain, baik lewat kata-kata maupun perilaku.

I think i should be thankful of what i have now.

Beberapa titik hujan seperti mendera pipiku sekarang. Ilustrasi sebuah kedamaian yang kuperoleh hanya dengan duduk di sebelahnya seperti sekarang, memandanginya yang sedang asyik dengan video-video band indienya. Bersyukur bahwa priceless moment ini datang tidak lebih lama lagi dari sekarang.

...

Entahlah, tapi setidaknya aku merasa aku tidak sedang berusaha.