God bless this mess.



Selasa, 15 Februari 2011

Ini tentang keyakinan. Bahwa ada hal-hal semacam 'jalan' di dunia ini. Tentu saja.


Pagi ini, tanggal 15 Februari 2011. Aku terbangun dan merasa semakin jauh dengan udara. Kaki-kakiku semakin malas dan pikiranku semakin enggan berfungsi. Aku terseret dalam detik-detik yang terus berdetak. Dan menyadari bahwa aku bukan lagi gadis 17 tahun yang bisa berbuat apa saja dan mengabaikan hal apa saja. Tidak juga wanita dewasa yang membuat keputusan-keputusannya dengan dasar 'pattern'. Tidak, aku tidak punya bentukan.

Seperti hari-hari membosankan lainnya, aku terus mencecar. Melempar keluhan kesana kemari tanpa berpikir membereskannya kemudian. Terus menunggu angin akan meniupku dan memberikan bentuk atasku. Entah, tapi 'love will find a way' terdengar sangat banci.

Beberapa baris kata dan makna berjejalan mengisi layar kecil yang bahkan berukuran lebih kecil dari kartu pengenal. Dan disanalah syaraf-syarafku menetapkan pusatnya yang baru.

Kira-kira layar kecil ini bicara tentang sebuah revolusi pikiran. Bukan sesuatu yang muluk, tapi lagi-lagi, kesederhanaan adalah satu-satunya lawan seimbang untuk kompleksitas.

Layar kecil ini menghinaku tepat pada organ yang kupercaya merupakan promotor terpenting dalam kelangsungan hidupku. Sempurna. Dia berkata mengenai perkepecundangan. Suatu jalan yang pasti dilewati oleh orang-orang belajar.

Hei, bukankah setiap jengkal masa lalu adalah bahan tertawaan untuk hari ini?

Bahwa banyak sekali manusia yang beramai-ramai memijakkan kakinya pada masa lalu dan memagutkan bibirnya pada perasaan bersalah. Bukankah perasaan bersalah selalu menjadi tamu agung yang dijamu bukan main hebatnya? Semacam pusaran yang selalu dipilih padahal di sekitarmu banyak laut-laut tenang?

Dan dia juga berbicara tentang pengampunan. Bahwa dasar dari segala pengampunan adalah pengampunan atas dirimu sendiri. Bahwa ada hal yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum berlelah-lelah mendaki persepsi orang lain.

Mungkin benar bahwa maaf yang termahal adalah maaf untuk dirimu sendiri.
Beberapa orang menukarnya dengan seluruh hidupnya, bahkan terkadang hingga seluruh hidupnya berakhir, maaf itu belum lunas terbayar.

Sudah lama sekali sejak aku meninggalkan hatiku, membiarkannya terseok-seok tanpa pengetahuan atas arah di dunia yang tergila-gila arah ini.

Satu titik aku mulai mengulurkan tanganku dan mulai menawarkan sebuah perjanjian baru. Tersenyum pada masa lalu dan mengucapkan terima kasih berkali-kali telah mengganti kacamataku dan memberiku seragam yang baru. Seragam yang luar biasa bagus, terlebih karena warnanya tidak lagi biru.

Sampai aku menyadari bahwa ini bukan tentang pengampunan.

...

"Aku mencintainya."
Hatiku mulai bersuara. Setelah diagnosis bisu permanen, akhirnya dia bicara.

"Aku tidak yakin kamu benar-benar mengatakannya. Mungkin kamu hanya sekedar ingin bicara, dan yah, dari dulu, bicaramu memang tentang itu-itu saja. Cinta. Aku bisa maklum kok, kamu tidak pernah tahu hal lain selain itu."
Angkuh. Pikiran selalu saja angkuh. Ia berbicara tentang kenyataan, sesuatu yang berada di luar kapasitas hati. Tentang kosakata sejenis kompleksitas dan warna-warna masa depan. Ah, terkadang dia berlebihan dan lupa bahwa hati adalah organ paling naif.

"Aku sungguh-sungguh. Aku tahu kamu selalu menyepelekan ini. Tapi percayalah, kamu tidak akan bisa berpijak di atas apa yang kau sebut kompleksitas itu. Itu turunan. Tolong, berpaling pada hakikat, sebentar saja."
Argumen yang tepat. Sepanjang hidup pikiran selalu bertemu dengan kompleksitas yang semakin menjadi-jadi. Menggilai diagram tulang ikan yang melibatkan aksi reaksi dan berkembang dalam hubungan kausalitas. Bahwa aku pun tidak pernah mempersalahkan pikiran dalam hal ini. Karena memang, kompleksitas adalah jalan yang mau tidak mau harus dilewati.

"Lalu bagaimana dengan musuh terbesarmu hah? Masa depan?"

"..."

"Sekarang kamu tidak lagi bisa membantah kan? Bahwa yang kamu sebut-sebut sebagai pondasi kehidupan itu ternyata hanya berlaku untuk usia-usiamu sebelum ini? Berubahlah. Kurasa kamu yang sebenarnya butuh untuk menengok ke kenyataan, sebentar saja."

"Aku bukan diam karena membenarkan seluruh perkataanmu. Aku hanya tidak mengerti. Apa yang kamu sebut dengan masa depan. Masa depan yang mana?"

"Masa depan. Sesuatu yang biasa disebut dengan 'selamanya'.. Remember?"

"Aku masih tidak mengerti."

"Apa yang kamu sebut dengan cinta itu, bukan hal yang cocok dengan kosakata 'selamanya'. Karena seperti yang dulu pernah kamu akui, dan terus kuingat hingga saat ini, bahwa cinta suatu saat akan pudar. Jadi, tugasku di sini adalah mengingatkanmu untuk segera melebarkan fungsimu. Hakikat tidak akan menyelamatkanmu dari 'selamanya' ini."

"Aku tahu sekarang. Tapi, bukankah segalanya bisa berubah? Memangnya kamu tahu, apa yang terjadi besok?"

Perdebatan itu berhenti. Seperti merasa tidak lagi memiliki kapasitas untuk mengintervensi, hati dan pikiran kembali ke biliknya masing-masing.

Yah, mungkin 'love will find a way' tidak terlalu banci kalau dipikir dan dirasa lagi.

Lagi-lagi dunia meninggalkanku. Seenaknya melangkah tanpa mengecek apakah tali sepatuku tidak ada yang terlepas, atau paru-paruku masih baik dan kakiku masih bisa digunakan untuk berlari.

Aku diam dalam segala definisi. Beberapa menyepi ke bilik definisi. Beberapa kabur bersama kenyataan dan memilih menjadi bayangan.

Kalau toh aku mencintainya dan dia memang untukku, sepertinya aku tidak perlu bertanya lagi pada dunia, mereka dengan sendirinya akan membocorkannya.



15 Februari 2011. Nyatanya awal dan akhir tidak pernah benar-benar saling kenal.