Aku selalu marah setiap ada film yang sengaja aku ikuti tapi tidak berakhir sesuai keinginanku. Kali ini case-nya adalah Carrie Bradshaw di Sex and the City. First of all, it was very tempting buat aku lihat Karena karakter Carrie yang mirip seperti pemahamanku tentang diriku sendiri saat ini.
Successful in career. Cantik. Punya style yang bagus. Dan Tampak seperti Kuat banget dari luar. Dan at the same time.. Hopeless romantic, yang Lalu menjadikan dirinya sedikit delusional dan weak.
Second and most importantly, kami samasama menyukai orang seperti Mr. Big. Ganteng, tinggi, big gesture, tapi juga ada satu kekurangan besarnya… so damn immature. Giving Carrie only the bare minimum, the breadcrumbs, but just a very very consistently given breadcrumbs.
“Sorry I freaked out for a minute but now I am ready”. Mr. Big bilang begini setelah dia terlambat datang di pernikahannya yang berujung Carrie dipermalukan Karena pernikahannya batal. Bahkan Carrie harus pergi menikmati bulan madunya, yang sudah dia bayar sendiri sebagai hadiah buat Mr. Big, bersama teman-temannya.
Memang ya, Tuhan itu menciptakan laki-laki dan kemudian menciptakan female friendship sebagai permintaan maaf.
Selama menyimak cerita Carrie, aku sambil menciptakan opsi-opsi di dalam pikiranku sendiri.
“I cant stand her, she is so weak, maybe because her husband is like that”.
“You always love someone not for what that person is, but for what that person does to you.”
“Maybe he doesnt know what he is doing”
There you go. Begitulah bagaimana kepalaku memprogram hatiku. Mengingat hal-hal buruk yang orang katakan padaku, dan menganggap hal-hal baik seperti “biasa”. Sedangkan hal buruk itu mengagetkan dan cenderung menawan sehingga membutuhkan perhatian ekstra. Pola pikir ini, ditambah hopeless romantic, membuat aku lupa bagaimana seharusnya plot hidupku. Tolol ya, Carrie dan aku.
__
Akhirnya Aku menerima kenyataan bahwa hari ulang tahunku akan diawali dengan menerima telfon darimu di jam 1 pagi. Konon kamu sudah memasang alarm dan ingin menjadi yang pertama mengucapkannya kepadaku. Beberapa jam setelahnya, yaitu ketika pagi, kamu sudah menelepon lagi, menanyakan apakah aku ada di apartemen. Lalu there you go again.
“Happy birthday” darimu yang berdiri di depan pintu dengan sepotong kue, lilin ulang tahun, dan kopi Paul untuk kita berdua.
Brengsek. Bajingan.
Mr Big and him. What a massive disaster that you have made in Carrie and my life and yet, you do think that casually showing up to my door in my birthday is, okay?
Jujur aku hampir lompat dari kursi pesawatku, melihat keputusan yang diambil Carrie, setelah berminggu-minggu atau berbulan-bulan didampingi sahabat-sahabatnya healing dan “sembuh” dari peristiwa epic Mr. Big di hari yang seharusnya menjadi hari pernikahannya. I mean, I am so mad when Carrie sees him and jump into him and kiss him all over again. Kenapa sama banget sama aku, bodohnya.
Tapi kali ini ada yang sedikit berbeda. It looks like she has just discovered in her head, what the answer is for her million dollar question “Why after all this years….”
And Mr. Big did write to her. Did try to reach her multiple times.
Only that Mr. Big sent the love letters written by somebody else to her, and on the other hand, I got..
Occasional invitation to eat sate ayam in my apartment
Occasional princess treatment during birthday
Occasional “how are you”
And occasional jealousy whenever he spot something on my apartment that does not belong to his.
___
Aku nyaris beku melihat Carrie Lalu menemukan jawaban itu. “We were perfectly happy before we decided to get married”. Lalu mereka menikah dengan simpel di catatan sipil, mengenakan gaun vintage sederhana yang Carrie sudah siapkan secara khusus untuk momen Penting dan sakral untuknya, Tanpa Campur tangan designer manapun. Lalu there it is, mereka menikah dan bahagia.
Film Amerika bangsat.
While my ending is “Maybe what I need is boundary, and recharge, while the universe works”. Ah anjing, ini sih solusi buat film series!
I wish Sex and the City could have its European move ending. When winning is actually flat and grey. What the heck is this ending?! Why and ending equals to finding an answer. What if I never ever actually find my answer?!
Bagaimanapun aku mencari jawaban, silver lining, apapun itu, semakin gatal diriku untuk mengambil keputusan.
Semakin ingin melakukan satu hal berbeda setiap harinya. Hari ini aku sudah mencoba untuk memikirkannya dan Lalu melupakannya. Memberanikan diri mengingatnya dan melupakannya terasa natural.
Aku takut, rasa ini akan benar-benar hilang tanpa aku menemukan jawabannya. Karena mungkin beberapa perpisahan tidak menyisakan pertanyaan. Beberapa perpisahan hanya bertugas meningkatkan daya tahan hati kita terhadap rasa sakit dan kehilangan.
Mungkin ini sinyal yang salah, tapi Aku bener-bener terbiasa sekarang. Terbiasa bertanya, terbiasa nggak dapet jawaban. Lama-lama interaksi searah ini akan hilang juga ketika tidak ada tanggapan.
Mungkin benar kata-kata overheard Jakarta.
Inget-inget aja. Sampe lo Capek.
I may be weak.
Our relationship may exist because I like how you treat me.
And you may not be so ready with life that happens after you decided to choose me.
But despite everything… I am still talking to an empty air. It is not so nice, and I will get tired. I am not waiting until 50 just to understand that we mean something beyond the status and marriage.
I really think I should eat the grapes while saying that I want to have Samantha Jones energy more now.. the “I love you but I love me more”. PLEASE.